Jumat, 20 April 2012

Pertolongan Pertama (PP)

Pertolongan Pertama adalah pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau korban yang memerlukan penanganan medis dasar. Dalam setiap kejadian itu pastilah ada penderita cedera baik yang mengalami luka berat maupun luka ringan dan membutuhkan Pertolongan Pertama yang cepat dan tepat.

Tentang Medis Dasar
Tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh awam yang terlatih secara khusus. Batasannya sesuai dengan sertifikat yang dimiliki oleh Pelaku Pertolongan Pertama. 

Tujuan Pertolongan Pertama :
  • Menyelamatkan jiwa penderita
  • Mencegah cacat
  • Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan
Dasar Hukum :
  • Seorang Pelaku Pertolongan Pertama ternyata ada aturan undang-undangnya lho... Memberikan Pertolongan (Pasal 531 KUHP). Barang siapa yang tidak memberikan pertolongan kepada penderita pada saat dikejadian akan dihukum kurungan selama-lamanya 3 bulan atau denda sebanyak Rp4.500,00.
  • Kerahasiaan (Pasal 322 KUHP). Barang siapa yang membuka rahasia yang wajib menyimpannya oleh karena jabatan atau pekerjaan baik sekarang maupun yang dahulu dipidana dengan pidana selama-lamanya 9 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp9.000,00.

Persetujuan Tindakan Pertolongan
Ada dua persetujuan atau ijin bagi penolong untuk melakukan tindakan :
  • Persetujuan yang dianggap diberikan atau tersirat adalah persetujuan yang umum diberikan dalam keadaan penderita sadar atau normal.
  • Persetujuan yang dinyatakan adalah persetujuan yang dinyatakan secara lisan atau secara tertulis oleh penderita itu sendiri.

Seorang Pelaku Pertolongan Pertama mempunyai kewajiban sebagai berikut :
  • Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita, dan orang di sekitarnya
  • Menjangkau penderita
  • Mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa
  • Meminta bantuan / rujukan
  • Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat sesuai keadaan penderita
  • Membantu orang lain
  • Menjaga kerahasiaan medis penderita
  • Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat
  • Mempersiapkan penderita untuk di transportasi / rujuk ke fasilitas kesehatan

Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama :
  • Jujur dan bertanggung jawab
  • Profesional    
  • Mempunyai kematangan emosi
  • Mampu bersosialisasi
  • Kemampuan nyata terukur sesuai sertifikasi
  • Mempunyai kondisi fisik baik
  • Mempunyai rasa bangga


1. Alat Perlindungan Diri (APD)
Sebagai Pelaku PP, kita harus mengutamakan keselamatan diri sendiri. Jadi, kita
harus memerlukan Alat Perlindungan Diri (APD).

APD itu alat yang digunakan agar kita tidak tertular penyakit. APD tidak perlu mahal.
Contohnya :
  • Sarung tangan lateks
  • Masker
  • Kacamata pelindung (jika diperlukan)
Selain APD, dalam melakukan PP kita juga memerlukan beberapa peralatan.
Misalnya :
  • Kasa Steril    
  • Pembalut gulung / perban
  • Pembalut perekat / plester
  • Gunting pembalut
  • Bidai
  • Pinset
  • Senter
  • Selimut
  • Alkohol 70%
  • Revanol
  • Kapas


2. Anatomi dan Faal Dasar
Dalam melakukan Pertolongan Pertama (PP), kita harus tahu apa itu Anatomi dan
Faal Dasar.

Anatomi adalah ilmu urai tubuh. Yaitu ilmu yang mempelajari susunan dan bentuk
tubuh. Sedangkan Faal yaitu ilmu yang mempelajari fungsi bagian dari alat atau
jaringan tubuh disebut Fisiologi.

Posisi Anatomis
Berdasarkan posisi anatomis dikenal ada tiga bidang khayal yang membagi
tubuh menjadi dua bagian, yaitu :
  • Bidang Medial adalah bidang khayal yang membagitubuh menjadi dua, yaitu kiri dan kanan
  • Bidang Frontal adalah bidang khayal yang membagi tubuh menjadi dua, yaitu depan (anterior) dan belakang (posterior).
  • Bidang Transversal adalah bidang khayal yang membagi tubuh menjadi dua, yaitu atas (superior) dan bawah (inferior) 

Bagian- Bagian Tubuh Manusia
Tubuh manusia dilindungi oleh kulit dan diperkuat oleh rangka. Umumnya tubuh
manusia dibagi menjadi 5 bagian, yaitu :

 1. Kepala
     Terdiri dari :
      - Tengkorak
      - Wajah
      - Rahang bawah

 2. Leher

 3. Batang Tubuh
     Terdiri dari :
      - Dada
      - Perut
      - Punggung
      - Panggul

 4. Anggota Gerak Atas
     Terdiri dari :
      - Sendi bahu
      - Lengan atas
      - Siku
      - Lengan bawah
      - Pergelangan tangan
      - Tangan

 5. Anggota Gerak Bawah
     Terdiri dari :
      - Sendi panggul
      - Tungkai atas (paha)
      - Lutut
      - Tungkai bawah (betis)
      - Pergelangan kaki
      - Kaki
  

Rongga Tubuh Manusia
Selain pembagian tubuh, kita terdapat 5 buah rongga, yaitu :

 1. Rongga Tengkorak
     Rongga ini berisi otak dan melindunginya.
 
 2. Rongga Tulang Belakang
     Berisi bumbung saraf atau "spinal cord" terbentuk dari rongga-rongga tulang
     belakang menyatu membentuk suatu kolom. 

 3. Rongga Dada
     Sering juga disebut rongga toraks. Dilindungi oleh tulang-tulang rusuk, berisi
     jantung, paru-paru, pembuluh darah besar, kerongkongan dan saluran pernafasan.

 4. Rongga Perut
     Rongga ini terletak diantara rongga dada dan rongga panggul. Dalam dunia medis
     dikenal dengan istilah abdomen. Di dalam rongga ini terdapat berbagai organ
     pencernaan dan kelenjar seperti lambung, usus, limpa, hati, empedu, pankreas dan
     lainnya.

 5. Rongga Panggul
     Rongga ini dibentuk oleh tulang-tulang panggul, berisi kantong kemih, sebagian
     usus besar dan organ reproduksi dalam.


Sistem Tubuh Manusia
Sistem tubuh adalah susunan dari organ-organ yang mempunyai fungsi tertentu. Ada
beberapa sistem pada tubuh manusia :

 1. Sistem Rangka (Skeleton)
     Fungsi rangka :
  • Menopang bagian tubuh
  • Melindungi organ tubuh
  • Tempat melekat otot dan pergerakan tubuh
  • Membentu tubuh
 2. Sistem Otot (Muskularis)
     Merupakan suatu organ atau alat yang berfungsi menggerakan tubuh

 3. Sistem Pernafasan (Respirasi)
     Ada dua sistem pernafasan :
  • Pernafasan Dalam adalah pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida yang terjadi didalam jaringan.
  • Penafasan Luar adalah pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida yang terjadi didalam paru-paru.    
 4. Sistem Peredarahan Darah
     Peredarahan terdiri dari :
  • Peredarahan Kecil, jantung ke paru-paru kembali lagi ke jantung (terjadi pengambilan oksigen dan pembuangan karbon dioksida).
  • Peredarahan Besar, jantung ke seluruh tubuh kembali lagi ke jantung (terjadi pemberian oksigen serta pengambilan zat sampah di kapiler).
 5. Sistem Saraf (Nervus)
     Organ yang berfungsi untuk melakukan koordinasi dan kerjasama dengan bagian
     tubuh.

 6. Sistem Pencernaan (Digestif)
     Saluran yang menerima makanan dari luar untuk diserap oleh tubuh dengan dicerna
     (proses telan, kunyah, dan mencampur) dengan bantuan enzim dan zat cair mulai
     sampai anus.

 7. Sistem Kelenjar Buntu (Endokrin)
     Kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya (produknya) kedalam darah dalam
     jaringan kelenjar tanpa melalui saluran dan hasil sekresi ini disebut hormon.

 8. Sistem Kemih (Urinaria)
     Proses penyaringan darah untuk menyerap zat yang digunakan tubuh yang
     membebaskan dari zat yang tidak digunakan.

 9. Kulit
     Adalah lapisan jaringan pada bagian luar yang menutupi dan melindungi permukaan
     tubuh dan yang berhubungan dengan selaput lendir yang melapisi rongga-rongga.

 10. Panca Indera
       Panca indera adalah organ untuk menerima jenis rangsangan atau stimulus
       tertentu, terdiri dari :
  • Indera Penglihatan (Mata)
  • Indera Pendengaran (telinga)
  • Indera Penciuman (Hidung)
  • Indera Pengecap (Lidah)
  • Indera Perasa / Peraba (Kulit) 
 11. Sistem Reproduksi
       Terdiri dari sistem reproduksi pria dan wanita.



3. Penilaian Korban 
Saat sampai di lokasi kejadian hal yang pertama kali harus dilakukan adalah
menilai keadaan sekitar. Apakah aman atau tidak bagi dirinya. Jika ragu lebih baik
memindahkan korban ketempat yang aman, tetapi amankan diri sendiri terlebih
dahulu. Keselamatan penolong nomor 1.

Tugas seorang penolong saat tiba di lokasi kejadian adalah:
  • Memastikan keselamatan penolong, penderita, dan orang disekitar lokasi kejadian
  • Penolong harus memperkenalkan diri (bila memungkinkan)
  • Menentukan keaadan umum kejadian (mekanisme cedera)
  • Mengenali dan mengatasi cedera Si penderita
  • Menstabilkan penderita dan lakukan pemantauan terus-menerus
  • Rujuk ke fasilitas kesehatan terdekat
Diperlukan berbagai informasi yang dapat kita peroleh dari :
  • Kejadian itu sendiri
  • Penderita (bila sadar)
  • Keluarga atau saksi
  • Mekanisme kejadian
  • Perubahan bentuk nyata (cedera yang jelas)
  • Gejala suatu cedera atau penyakit

Penilaian Dini
Pada saat menghadapi penderita, kita perlu menentukan kondisi penderita secara
umum. Hal-hal yang ditentukan yaitu :

 A. Kesan umum
      Untuk menentukan apakah penderita merupakan kasus trauma / kasus medis.
      perbedaannya sebagai berikut :
  • Kasus Trauma adalah kasus yang disebabkan ruda paksa. Mempunyai gejala yang jelas dan terlihat atau diraba. Contohnya memar, luka terbuka, patah tulang, dll.      
  • Kasus Medis adalah kasus yang tidak ditemukan riwayat ruda paksa. Contohnya asma dan pingsan.
 B. Memeriksa kesadaran
      Ada empat tingkat kesadaran penderita, yaitu :
  • Awas (Alert)             
  • Suara (Voice)            
  • Nyeri (Pain)            
  • Tidak respon (Un Respon)
 C. Memastikan jalan nafas terbuka dengan baik
      Jika penderita tidak respon gunakan teknik angkat dahu tekan dahi.
    
 D. Menilai pernafasan
      Setelah jalan nafas berjalan dengan baik maka penolong harus menilai
      pernafasan penderita dengan cara :
  • Lihat
  • Dengar
  • Rasakan
 E. Menilai denyut nadi
     Sebelum melakukannya, kita lihat dulu kondisi korban apakah sadar atau tidak.
     Jika sadar, cara yang digunakan adalah dengan meraba nadi pergelangan tangan
     (Radial). Sedangkan bagi korban yang tidak sadar, nadi yang diperiksa adalah
      leher (Karotis).

 F. Hubungi bantuan
     Usahakan untuk segera minta bantuan rujukan. Kita bisa meminta bantuan kepada
     orang lain atau melakukannya sendiri. Misalnya dengan telepon.    


Pemeriksaan Fisik
Tindakan ini melibatkan penglihatan, perabaan, dan pendengaran.

Tanda apa saja yang kita temukan saat pemeriksaan fisik :
  1. Apakah ada perubahan bentuk pada bagian tubuh si korban?
  2. Apakah ada luka terbuka (terlihat jelas) pada tubuh korban?
  3. Apakah korban merasakan nyeri?
  4. Apakah ada bengkak pada tubuh korban?
Untuk pemeriksaan lebih lanjut kondisi korban, perlu dilakukan pemeriksaan yang
lebih lengkap dari ujung kepala sampai ujung kaki. Antara lain :
  1. Kepala terdiri dari hidung, telinga, mata, dan mulut 
  2. Leher
  3. Dada
  4. Perut
  5. Punggung
  6. Panggul
  7. Anggota gerak atas dan bawah

Pemeriksaan Denyut Nadi
Setiap kali jantung berdenyut maka pembuluh nadi akan melebar dan berkontraksi saat darah melaluinya. Nadi adalah gelombang tekanan yang dihasilkan oleh denyut jantung.

Denyut nadi dapat diperiksa di bagian :
  • Leher (Arteri Karotis)
  • Lengan atas (Arteri Brakialis)
  • Pergelangan tangan (A. Radialis)
  • Lipatan paha (A. femoris)  
Cara memeriksa nadi :
  • Pasien dibaringkan / duduk dengan tenang
  • Raba nadi dengan jari telunjuk dan jari tengah
  • Bila denyut nadi teratur, nadi diperiksa 15 detik dan hasilnya dikalikan 4 untuk mendapatkan denyut nadi permenit.
  • Laporkan teratur atau tidak dan kuaat atau lemah denyut nadi penderita
 Denyut nadi :
  • Bayi (120-150X/menit)
  • Anak (80-150X/menit)
  • Dewasa (60-90X/menit)

Pemeriksaan Pernafasan
Pada penderita sadar jangan sampai penderita mengetahui bhwa frekuensi
pernafasannya sedang dihitung. Letakan tangan penderita diatas dada atau perut
penderita, lalu amatilah gerakkan naik turunnya. Satu pernafasan adalah satu kali
menghirup dan mengeluarkan nafas. Pernafasan dihitung selama 30 detik, lalu
dikalikan 2 untuk mendapatkan frekuensi pernafasan permenit.

Frekuensi pernafasan :
  • Bayi (25-50X/menit)
  • Anak (15-30X/menit)
  • Dewasa (12-20X/menit)

Pemeriksaan Suhu
Apakah ada peningkatan atau penurunan suhu. Suhu tubuh normal 37 derajat Celcius. Kelembaman kulit juga diperhatikan (berkeringat / kering).

Warna kulit juga dinilai, yaitu :
  • Pucat, dapat terjadi akibat gangguan peredarahan darah, seperti tekanan darah tinggi, keracunan alkohol, luka bakar, demam, penyakit, infeksi, dll.
  • Kebiruan (sianossi), kurangnya oksigen dalam darah.
  • Kekuningan, sering merupakan tanda-tanda gangguan hati.
  • Biru Kehitaman, tanda perdarahan dibawah kulit.

Riwayat Penderita
Untuk mengetahui penyebab atau pencetus suatu kejadian, mekanisme kejadian
atau perjalanan suatu penyakit maka diperlukan wawancara yang dapat dilakukan
dengan penderita, keluarganya atau saksi mata. Riwayat penderita ini sangat penting 
pada kasus medis. Untuk memudahkan, dikenal dengan sebutan KOMPAK. 

     K (Keluhan utama)
     O (Obat-obatan yang diminum) 
     M (Makanan / minuman terakhir dikonsumsi)
     P (Penyakit yang diderita)
     A (Alergi yang dialami)
     K (Kejadian)
 

Pemeriksaan Berkala
Usahakan pemeriksaan terus dilanjutkan secara berkelanjutan sebelum mendapatkan
pertolongan medis. Secara umum pada pemeriksaan berkala harus dinilai kembali :
  • Tingkat kesadaran
  • Nilai kembali jalan nafas dan perbaiki jika perlu
  • Nilai kembali pernafasan, frekuensi, dan kualitasnya
  • Periksa kembali nadi penderita
  • NIlai kembali keadaan kulit
  • Periksa kembali, mungkin ada bagian yang terlewati
  • Nilai kembali penatalaksanaan penderita (secara keseluruhan)
  • Pertahankan komunikasi dengan penderita untuk menjaga rasa aman dan nyaman

Pelaporan
Setelah selesai menangani penderita, tindakan pertolongan harus secara singkat dan
jelas kepada penolong selanjutnya. Dalam laporan sebaiknya dicantumkan :
  • Umur dan jenis kelamin penderita
  • Tingkat kesadaran
  • Keadaan jalan nafas
  • Pernafasan
  • Denyut nadi
  • Pemeriksaan yang penting
  • KOMPAK yang penting
  • Penatalaksanaan
  • Perkembangan lainnya yang dianggap penting


4. Cedera Jaringan Lunak
Benturan atau terkena benda tajam terkadang menimbulkan dampak memar hingga
keluarnya darah dari tubuh. Disini kita akan membahas tentang Perdarahan dan Syok.

Kenapa bisa terjadi perdarahan?
Perdarahan terjadi akibat rusaknya dinding pembuluh darah yang dapat disebabkan oleh
benturan (Trauma Penyakit). Perdarahan yang besar merupakan penyebab Syok yaitu
suatu kondisi dimana beberapa sel dan alat tubuh tidak cukup mendapat aliran darah
yang mengandung oksigen.

Perdarahan dibagi menjadi 2 :
  • Perdarahan Luar (Terbuka)
  • Perdarahan Dalam (Tertutup)

Perdarahan Luar (Terbuka)
Jenis perdarahan ini terjadi akibat kerusakan dinding pembuluh darah disertai dengan
kerusakan kulit yang memungkinkan darah keluar dari tubuh. Berdasarkan pembuluh
darah yang mengalami gangguan perdarahan luar dibedakan menjadi :
  • Perdarahan Arteri, darah yang keluar dari pembuluh nadi, darah yang keluar menyembur sesuai denyut nadi dan berwarna merah terang karena masih kaya dengan oksigen.
  • Perdarahan Vena, darah yang keluar dari pembuluh balik, darah yang keluar mengalir berwarna merah gelap karena mengandung karbondioksida.
  • Perdarahan Kapiler, berasal dari pembuluh kapiler, darah yang keluar merembes. Perdarahan ini sangat kecil sehingga hampir tidak memiliki tekanan, warnanya bervariasi antara merah terang dan merah gelap. 
Pengendalian Perdarahan Luar :
  1. Tekan luka dengan jari/telapak tangan (gunakan sarung tangan).
  2. Tinggikan anggota tubuh yang cedera lebih tinggi dari jantung untuk mengurangi kehilangan darah
  3. Tekan pada titik tekan, yaitu arteri di atas daerah yang mengalami perdarahan. Ada beberapa titik tekan, yaitu :
    • Arteri Brakialis (arteri di lengan atas)
    • Arteri Radialis (arteri di pergelangan tangan)
    • Arteri Femoralis (arteri di lipatan paha)
Penanganan Perdarahan Luar :
  1. Pakai APD agar tidak terkena darah/cairan tubuh penderita
  2. Jangan menyentuh mulut, hidung, mata, dan makanan sewaktu memberi perawatan
  3. Cucilah tangan setelah selesai memberikan perawatan
  4. Buang bahan yang sudah terkena darah / cairan tubuh penderita dengan baik

Perdarahan Dalam (Tertutup) 
Benturan dengan benda tumpul merupakan penyebab utama cedera dalam dan
perdarahan dalam. Kehilangan darah pada perdarahan dalam tidak terlihat, karena
kulitnya masih utuh dan perdarahan terjadi didalam kulit. Kecurigaan adanya
perdarahan dalam harus melakukan dinilai dan pemeriksaan fisik yang lengkap
termasuk wawancara dan menganalisa mekanisme kejadiaan.

Beberapa perdarahan dalam yang dapat dikenali antara lain :
  • Cedera pada bagian luar tubuh yang mungkin merupakan petunjuk bagian dalamjuga mengalami cedera. Adanya memar disertai nyeri pada tubuh/pembengkaan terutama diatas tubuh.
  • Nyeri, bengkak, dan perubahan bentuk pada alat gerak. Nyeri tekan/kekakuan pada dinding perut dan muntah darah. 
  • Buang air besar berdarah, baik darah segar maupun darah hitam. Luka tusuk,
  • khususnya pada batang tubuh. Darah/cairan mengalir dari hidung dan telingadan buang air kecil campur darah.
Penanganan Perdarahan Dalam :
  1. Baringkan penderita
  2. Periksa dan pertahankan Air Breath Circulation (ABC)
  3. Periksa pernafasan dan nadi secara berkala
  4. Jangan berikan makanan / minuman
  5. Rujuk ke fasilitas terdekat

Syok
Adalah suatu kondisi dimana beberapa sel dan organ tubuh vital (terutama otak,
jantung, dan paru-paru) tidak cukup mendapat aliran darah yang mengandung
oksigen dan bahan nutrisi.

Kenapa Syok Terjadi ?
  1. Kegagalan darah memompa darah
  2. Kehilangan darah jumlah besar
  3. Pelebaran pembuluh darah yang luas (dilatsi)
Waspadai Syok! berikut adalah tanda dan gejalanya :
  1. Nadi cepat dan lemah
  2. Nafas cepat dan dangkal
  3. Kulit pucat dingin dan lembab 
  4. Wajah pucat dan kebiruan (sianosis) pada bibir, lidah, dan kuping telinga 
  5. Pandangan hampa pupil mata melebar    
  6. Perubahan keadaan mental (cemas dan gelisah)
  7. Mual, mungkin disertai muntah
  8. Haus
  9. Lemah
  10. Pusing (Vertigo)
  11. Tidak nyaman dan takut
Bagaimana menanganinya ?
  1. Bawa penderita ketempat teduh dan aman
  2. Tidurkan penderita dengan posisi terlentang
  3. Tinggikan tungkai
  4. Longgarkan pakaian penderita
  5. Selimuti agar tidak kehilangan panas
  6. Jaga jalan nafas dengan baik
  7. Kontrol perdarahan dan rawat cedera lainnya bila ada
  8. Jangan berikan makanan dan minuman
  9. Periksa tanda vital secara berkala
  10. Rujuk ke fasilitas kesehatan



5. Cedera Sistem Otot Rangka
Dalam setiap kegiatan kita sehari-hari terkadang ada saja yang bisa menyebabkan kita
mengalami cedera sistem otot dan rangka hingga kita merasa sangat sakit dan sulit untuk
memfungsikan alat gerak.

Cedera otot rangka merupakan salah satu bentuk cedera yang paling banyak dijumpai
di lapangan, mulai dari yang ringan sampai yang mengancam nyawa. Tanpa memandang 
berat atau ringannya kasus yang dihadapi, penanganan yang baik dapat membantu mencegah
terjadinya cacat tetap. Supaya kita tidak salah dalam memberikan pertolongan, yang
berikut ini wajib dibaca.

Secara umum cedera otot rangka dibagi menjadi 4 :
  1. Patah tulang (Fraktur)
  2. Cerai sendi (Dislokasi)
  3. Terkilir otot (Strain)
  4. Terkilir sendi (Sprain)

Patah Tulang (Fraktur)
Patah tulang adalah terputusnya jaringan tulang 
Waspadai Gejala dan Tanda patah tulang : 
  • Perubahan bentuk 
  • Nyeri dan kaku
  • Terdengar suara berderik pada daerah yang patah 
  • Terjadi pembengkakan 
  • Adanya memar 
  • Ujung tulang terlihat 
  • Adanya gangguan perederahan darah 
Jenis patah tulang : 
  • Patah tulang terbuka, bagian tulang yang patah berhubungan dengan udara luar
  • Patah tulang tertutup, bagian tulang yang patah tidak berhubungan dengan udara luar
Nah... untuk cedera otot rangka, kita bisa menolongnya dengan pembidaian 

Apa itu pembidaian ? 
Pembidaian adalah pemakaian suatu alat untuk menghindari pergerakan, melindungi, dan menstabilkan bagiian tubuh yang cedera. 

Pembidaian bertujuan untuk : 
  • Mencegah pergerakan / pergeseran dari ujung tulang yang patah 
  • Mengurangi cedera yang baru disekitar bagian tulang yang patah 
  • Mengistirahatkan anggota badan yang patah 
  • Mengurangi rasa nyeri 
  • Mengurangi perdarahan 
  • Mempercepat penyembuhan 
Macam-macam bidai : 
  • Bidai Keras, diibuat dari bahan yang keras dan kaku untuk mencegah pergerakan bagian yang cedera. Bahan yang sering dipakai adalah kayu, alumunium, karton, plastik atau bahan lain yang kuat dan ringan. Contoh : bidai kayu, bidai tiup, bidai vakum. 
  • Bidai yang dapat dibentuk, jenis bidai ini dapat diubah menjadi berbagai bentuk dan kombinasi untuk disesuaikan dengan bentuk cedera. Contoh : bidai vakum, bantal, selimut, karton, bidai kawat. 
  • Bidai Traksi, bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari pembuatannya. Hanya digunakan oleh tenaga yang terlatih khusus. Umumnya dipakai pada patah tulang paha 
  • Gendongan / Biat dan Bebat, pembidaian dengan menggunakan pembalut, umumnya dipakai mitela. Prinsipnya adalah memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana untuk menghentikan pergerakan daerah cedera. Contohnya : gendongan lengan. 
  • Bidai Improvisasi, bila tidak tersedia bidai. Maka penolong dituntut mampu berimprovisasi membuat bidai yang cukup kuat dan ringan untuk menopang bagian tubuh yang cedera. Contohnya : majalah, koran, karton, dll 
Pedoman umum pembidaian : 
  • Sampaikan rencana tindakan kepada penderita (jika perlu) 
  • Pastikan bagian yang cedera dapat dilihat dan rawat perdarahan bila ada 
  • NIlai gerakan sensasi sirkulasi (GSS) pada bagian daerah luka sebelum menggerkan pembidaian 
  • Siapkan alat seperlunya (bidai dan mitela) 
  • Upayakan tidak mengubah posisi yang cedera 
  • Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah 
  • Ikatan jangan terlalu keras dan jangan longgar
  • Ikatan harus cukup jumlahnya dimulai dari sendi yang banyak bergerak 
  • Selesai dilakukan pembidaian dilakukan GSS kembali, bandingkan dengan pemeriksaan GSS yang pertama  

Cerai Sendi (Dislokasi)
Cerai sendi adalah keluarnya kepala sendi dari mangkok sendi. Penyebabnya : 
  • Sendi teregang melebihi batas normal  sehingga kedua ujung tulang terpisah dan tidak pada tempatnya. Jaringan ikat sendi bisa tertarik melebihi batas normal dan mungkin sampai robek. 
  • Secara umum berupa patah tulang yang terbatas pada daerah sendi.  

Terkilir Otot (Strain)
Terkilir otot adalah robeknya jaringan otot pada ekor otot (Tendon), karena teregang melebihi batas normal. 

Penyebab : 
  • Latihan peregangan tidak cukup 
  • Latihan peregangan tidak benar 
  • Teregang melebihi batas kemampuan 
  • Gerakan yang tidak benar 
Waspadai Gejala dan Tandanya : 
  • Nyeri yang mendadak pada daerah otot tertentu
  • Nyeri menyebar keluar disertai kejang dan kaku otot
  • Bengkak pada daerah cedera

Terkilir Sendi (Sprain)
Terkilir sendi adalah robeknya/putusnya jaringan ikat sekitar sendi karena sendi teregang melebihi batas normal. Penyebab : 
  • Terpeleset 
  • Gerakan yang salah
Gejala dan Tandanya : 
  • Bengkak
  • Nyeri Gerak
  • Nyeri Tekan
  • Warna kulit merah kebiruan

Pertolongan Cedera Pada Sistem Otot Rangka :
  • Lakukan penilaian dini
  • Lakukan pemeriksaan fisik
  • Stabilkan bagian yang patah secara manual 
  • Upayakan yang diduga patah dapat dilihat  
  • Atasi pendarahan dan rawat luka bila ada 
  • Siapkan alat-alat seperlunya (bidai dan mitela)
  • LAKUKAN PEMBIDAIAN.......!!!
  • Kurangi rasa sakit 
  • Baringkan penderita pada posisi yang nyaman

Penanganan Terkilir :  
  • Letakan penderita dalam posisi yang nyaman dan istirahatkan bagian yang cedera 
  • Tinggikan bagian yang cedera 
  • Beri kompres dingin maksimal 3 menit, ulangi setiap jam (bila perlu) 
  • Balut tekan dan tetap tinggikan 
  • Rawat sebagai patah tulang 
  • Rujuk ke fasilitas kesehatan

Pertolongan Pada Beberapa Cedera Alat Gerak :  

 1. Cedera bahu 
     Dislokasi bahu sering terjadi di daerah bahu. Bila terjadi patah tulang patah 
     tulang selangka, mungkin terlihat rongga pada daerah lengan atas di bawah 
     tulang selangka. Pada cedera ini tindakan yang paling baik adalah memasang
     gendongan.

 2. Cedera patah tulang lengan atas
     Tulang lengan atas merupakan tulang yang cukup tebal dan kuat, bila tulang ini
     cedera waspadailah cedera jaringan disekitarnya. Pertolongan : 
  • Letakan lengan bawah di dada dengan telapak tangan menghadap kedalam
  • Pasang bidai sampai siku
  • Ikat di daerah diatas dan didaerah yang patah
  • Lengan bawah digendong
  • Jika siku juga patah dan tangan tidak dapat dilipat, pasang bidai sampai ke lengan, biarkan tangan tergantung, dan tidak perlu digendong.
  • Rujuk ke fasilitas kesehatan  
 3. Cedera patah tulang lengan bawah 
     Cedera di daerah lengan bawah dan pergelangan tangan merupakan cedera
     yang sering ditemukan. Pertolongan : 
  • Letakan tangan di dada
  • Pasang bidai dari siku sampai tangan
  • Ikat pada daerah diatas dan dibawah tulang yang patah
  • Lengan digendong
  • Rujuk ke fasilitas kesehatan
 4. Cedera tangan dan jari
     Cara paling mudah adalah dengan meletakan benda dalam telapak tangan,
     lalu membalut tangan tersebut dan meletakannya diatas bidai. Bila yang cedera
     adalah jari, maka ikatlah jari tersebut dengan jari sebelahnya. Jika yang cedera 
     lebih dari satu jari maka bidailah seluruh tangan. 

 5. Patah tulang paha
     Perubahan bentuk pada patah tulang paha biasanya terlihat dengan jelas, 
     disamping nyeri dan pembengkakan. Pertolongan : 
  • Pasang dua bidai (ketiak sampai sedikit melewati telapak kaki dan lipatan paha sampai sedikit melewati telapak kaki)
  • Beri bantalan kapas/kain antara bidai dengan tulang yang patah
  • Ikat kedua kaki diatas lutut dan pergelangan kaki-telapak kaki dengan pembalut untuk mengurangi pergerakan (jika perlu)
  • Rujuk ke fasilitas kesehatan 
     Catatan : 
  • Patah tulang paha dapat menimbulkan perdarahan dalam, sehingga penderita dapat mengalami syok
  • Bila ada patah tulang terbuka, atasi perdarahan dan rawat lukanya
 6. Cedera lutut 
     Bila lutut berada dalam posisi tertekuk maka bidailah dalam posisi tersebut
     dan bila lurus maka bidailah dalam posisi lurus. Cara membidainya sama
     seperti patah tulang paha. 

 7. Patah tulang tungkai bawah
     Umumnya kedua tungkai bawah mengalami cedera bersamaan. Letaknya 
     sangat dekat dengan permukaan kulit menyebabkan cedera ini sering berupa
     patah tulang terbuka. Pertolongan : 
  • Pasang 2 bidai disebelah luar dan dalam tungkai yang patah dari lipatan paha sampai sedikit melewati telapak kaki.
  • Beri bantalan kapas/kain antara bidai dengan tulang yang patah
 

0 komentar:

Poskan Komentar